Pelafalan dalam Bahasa Latin

Pertama kita akan membicarakan tentang pelafalan dalam bahasa Latin. Secara Garis Besar terdapat tiga poin untuk pelafalan, antara lain pelafalan konsonan (huruf mati), pelafalan vokal (huruf hidup) dan penekanan. Hal ini sangat penting, karena dapat menyatakan maksud dan kata secara lebih tepat.

Pelafalan Konsonan

Pelafalan konsonan dalam bahasa Latin, dilafalkan sama seperti dalam bahasa Indonesia. Namun ada yang perlu diperhatikan untuk konsonan berikut ini. Contoh katanya antara lain clarus, colo, Christus, Lac.

Huruf c dilafalkan seperti k dalam kata “kabar”. Namun apabila huruf c di depan æ, œ, e, dan i dilafalkan seperti c dalam kata “cepat”. Contoh katanya antara lain cæli, Cœtus, centum.

Huruf g dilafalkan seperti g dalam kata “gading”. Contoh katanya gloria, agri. Namun, apabila huruf g berada di depan huruf e dan i diucapkan sebagai j seperti dalam kata “Jawa”. Contoh katanya antara lain genite, genus, ager, diligere.

Huruf g di depan huruf n, maka dilafalkan seperti ny dalam kata nyata. Contoh katanya antara lain magnus, agnus, agnoscere.

Huruf s dilafalkan seperti kata “sudah”. Namun, apabila huruf s berada di depan ce- dan ci-, s dilafalkan sebagai sy seperti dalam kata “syarat”. Contoh katanya antara lain scientia, scelus.

ti dilafalkan seperti ti biasa dalam bahasa Indonesia. Namun, apabila ti diikuti vokal dan tidak didahului oleh s, maka ti diucapkan ts. Contoh katanya gratia, motio, altior

Pelafalan Huruf Vokal

Semua huruf vokal dalam bahasa Latin dilafalkan sama seperti dalam bahasa Indonesia. Khusus untuk æ dan œ dilafalkan seperti e dalam “lebar”. Contohnya terræ, cœli, pœna.

Penekanan

Dalam bahasa Latin, tidak pernah tekanan diberikan pada suku yang terakhir. Kita perlu mengetahui ada dua jenis perbedaan kata ini. Pertama kata dengan suku kata dua dan kata dengan suku kata yang lebih dari dua.

Kata yang bersuku kata dua, tekanan diberikan pada suku kata pertama. Contohnya páter, máter, térra. Kata yang bersuku kata lebih dari dua, tekanan diberikan pada suku ke-3 dimulai dari akhir kata. nomínibus, míttimus, glória, fílius.

Ada pengecualian, yaitu apabila suku ke-2 dari akhir kata itu mengandung vokal panjang, maka suku ini harus diberikan tekanan. Contohnya amícus, labóris, libertátis, actiónis.

Vokal, yang diikuti dua huruf konsonan, selalu panjang. Misalnya Argéntum, respónsum.

Vokal yang diikuti vokal lain, selalu pendek. Misalnya glória, fílius, áctio.

Demikian untuk Hari ini, selamat berhari minggu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s