Kasus-Kasus dalam Bahasa Latin

Seperti yang sudah kita ketahui, bahwa bahasa Latin merupakan bahasa akhiran, maka dengan bergantinya akhiran maka berganti pula posisi dari suatu kata. Posisi disini maksudnya adalah kata sebagai subjek, objek, predikat atau yang menerangkan subjek, objek atau menjadi kata keterangan. Jadi, akhiran dalam bahasa Latin menjadi sangat penting dalam penyusunan kalimat. Akhiran-akhiran itu sudah secara tidak langsung diperkenalkan dalam post yang sebelumnya.

Akhiran-akhiran itu tidak ngawur dalam penentuannya. Akhiran-akhiran itu diatur. Dalam peraturannya disebut kasus. Jadi, jangan kaget ketika mengengok judulnya kasus. Jangan berpikiran pula bahwa judulnya sudah kasus, terus isinya pasti masalah. Ya…, itu hal yang wajib. Sebab hidup tanpa masalah itu tidak hidup.

Kembali lagi ke kasus dalam bahasa Latin. Kasus ini merupakan perubahan akhiran menurut posisi kata benda itu dalam kalimatnya. Jadi ada enam posisi dalam hal ini atau ada enam kasus dalam hal ini. Keenam kasus itu ialah sebagai berikut.

  • Nominativus
    Untuk kasus ini, kata benda itu berlaku sebagai subjek. Kasus nominativus merupakan bentuk dasar dari semua kata benda.
  • Genetivus
    Kasus ini menyatakan kepemilikan terhadap suatu benda. Contoh frasenya putri ratu (Regínæ fília), tanah para petani (agrícolárum terra). Sehingga akhirannya untuk bentuk genetivus adalah untuk pemilik tunggal, dan -árum untuk pemilik jamak.
  • Dativus
    Kasus Dativus menunjukkan pelengkap penyerta kata kerja. Agar jelas, mungkin contoh kalimat dalam bahasa Indonesia ini bisa membantu.

    Putri itu memberi bunga mawar kepada petani.
    Fília rosam agrícolæ dat

    Pada kalimat itu bila diuraikan menurut posisinya, berlaku bahwa putri sebagai subjek, memberi sebagai kata kerja, bunga mawar sebagai objek, dan kepada petani sebagai pelengkap penyerta kata kerja. Secara sederhana, kasus dativus ini bila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia memberikan pernyataan kepada, untuk, bagi dan guna.

    Kemudian, akhiran yang berlaku di sini adalah akhiran untuk kata benda yang menyertai tunggal. Sedangkan akhiran -is untuk kata benda yang menyertai jamak. Pada contoh kalimat kita di atas, menunjukkan petani yang tunggal. Seandainya petani itu dibuat jamak, maka kalimatnya menjadi Fília rosam agrícolis dat.

    Khusus untuk kata fília, bentuk dativus jamaknya adalah fíliábus.

  • Accusativus
    Kasus accusativus secara sederhana disebut sebagai objek, dalam bahasa Indonesia. Akhirannya berupa akhiran -am.
  • Vocativus
    Kasus vocativus maksudnya adalah kata yang menunjuk kepada orang atau menyatakan sapaan. Biasanya didahului dengan kata seru “o”.
  • Ablativus
    Kasus ini, dalam bahasa Indonesia membentuk kata keterangan dari kata benda itu. Kata keterangan di sini adalah kata keterangan tempat dan kata keterangan alat. Untuk membentuk kata keterangan itu, dapat ditambahkan akhiran -a untuk kata yang sifatnya tunggal dan akhiran -is untuk kata yang sifatnya jamak.

Begitulah kiranya, semoga dapat berguna. Sekian, sampai ketemu lagi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s