Coniugatio Secundo

Beberapa waktu yang lalu, sudah ada post tentang coniugatio yang pertama. Sekarang kita memasuki coniugatio yang kedua. Namun sebelum memasuki inti post ini, ada sedikit cerita yang menurutku sangat mengejutkan. Kira-kira beginilah ceritanya.

Kira-kira peristiwa ini terjadi satu minggu yang lalu atau pada tanggal 13 Januari 2015 yang lalu, aku bertemu dengan salah seorang temanku yang belajar di jurusan Bahasa Perancis, Universitas Negeri Semarang di kantor Bank BNI di dekat kampus. Memang kami sudah lama tidak bertemu, juga dalam kesempatan itu masih dalam suasana natal sehingga kami mengucapkan selamat natal satu sama lain. Sebagai teman akrab, kami ngobrol-ngobrol banyak hal mulai yang sepele hingga membahas penelitian (maklum sudah semester banyak). Nah, mulailah dia membicarakan penelitiannya. Dia mengajukan pendapat bahwa dalam berbahasa akan mempengaruhi kemudahan bangsa untuk menjadi bangsa yang maju.

Dari sisi linguistik, ada bahasa yang memiliki konjugasi yang berbeda-beda menurut keadaan tertentu. Bila kita mempelajari bahasa Inggris, pasti kita akan mengenal Tensis. Ya, seperti yang kita tahu ada simple present tense, future tense, past tense, dan lain sebagainya. Dia mengamati, ternyata negara yang berbahasa Inggris merupakan negara maju. Lalu aku membantah bahwa tidak semua negara menuturkan bahasa Inggris sebagai bahasa pertama negara mereka, jadi kurang relevan. Dia melanjutkan penjelasannya bahwa yang memiliki konjugasi tidak hanya bahasa Inggris saja. Dia malah bertanya negara mana yang menurut saya termasuk negara maju. Saya menganggap negara Jepang dan Jerman yang merupakan negara maju. “Nah, itu Kris. Kamu menyebutkan negara penutur bahasa yang berkonjugasi.” begitu katanya. Sejujurnya aku terkejut dan bertanya alasannya. Tentu saja, “gramatica” bahasa Jepang termasuk susah dan banyak kata-kata yang disambung (dalam bentuk konjugasi), begitu penjelasannya. Segera saja aku mengingat pelajaran bahasa Jepang yang pernah diajarkan di SMA dan aku menyadarinya memang susah. “Terus Kris, Bahasa Jerman itu juga ada konjugasinya termasuk kata bendanya berkelamin (yang dimaksudkan memiliki genus)” Kemudian, aku bertanya lagi terkait korelasinya dengan kemajuan suatu bangsa. “Tentu ada, konjugasi itu menentukan keadaan waktu. Orang yang memperhatikan konjugasi, seharusnya juga memperhatikan waktu. Menghargai waktu.” Lanjutnya.

Bukan bermaksud untuk menjelekan bahasa Indonesia, tetapi kenyataannya bahasa Indonesia tidak memiliki konjugasi. Pada keadaan waktu yang berbeda pun tidak ada kata yang berubah, hanya ada tambahan keterangan waktu saja. Namun teman, ini hanya hipotesis. Perlu ada penelitian dan pengujian lebih lanjut. Nah, sekarang masuk ke coniugatio, cerita di atas hanya diskusi kami ketika menunggu antrian di bank.

Coniugatio kedua merupakan kelompok kata kerja yang bentuk infinitivus aktifnya berakhiran -ére dan bentuk infinitivus pasifnya berakhiran -éri. Berikut ini adalah tasrifnya dengan contoh kata habére (mempunyai).

aktif pasif
Infinituvus habére habéri
aku habeo habeor
kamu habes haberis
dia habet habetur
kami habémus habemur
Kamu sekalian habétis habemini
mereka habént habentur
Singularis Pluralis
Imperativus habe habete

Di sini sedikit ada bacaan. Silakan di simak.

Magister ita discípulos ádmonet, “Doceo discípulos meos, quia studiósos pueros amo. Habétis bonos libros, quia libri non boni semper a me prohibentur. Habéte semper libros vestros! Per multos annos in schola nostra manétis, quia multas disciplínas doceo. Ita sciéntiam vestram augeo. In schola pueri tacent, quia magister docet. Interdum discípuli respondent, quia a magistro interrogantur. Cavéte et verba stutla evitate! Pueri studiosi in schola non rident, sed student et semper magistro parent. Pueri pigri non student, quia sciéntiam non amant. Magister discípúlos non studiósos ádiuvat, quia ab eo poenis perterrentur.” Ita discípuli a magistro admonentur.

Terima kasih, semoga bisa berguna ya.

Iklan

One thought on “Coniugatio Secundo”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s