Quid Me cædis?

Dalam berbahasa, ada empat aspek yaitu membaca, menulis, berbicara dan mendengarkan. Empat aspek ini penting untuk menunjang berbahasa tanpa terkecuali bahasa Latin. Saat ini cukup sukar untuk menemui orang yang menuturkan bahasa Latin dalam hidupnya sehari-hari. Apabila ada orang yang menuturkan bahasa Latin sebagai bahasa sehari-hari, maka tidak sukar pula bahan untuk melatih aspek mendengarkan dan berbicara dalam bahasa Latin. Pencarianku untuk dua topik itu membuahkan hasil.

Pertama, aku menemukan pidato kelulusan yang menggunakan bahasa Latin. Mari kita dengarkan, jangan khawatir ada subtitle dalam bahasa Inggris yang membantu untuk memahami isi pidato.


Apabila agak bosan dengan pidato, bisa juga dengan film. Terbukti ternyata efektif, aku pun sudah membuktikannya. Aku termasuk orang yang senang dengan anime Jepang. Sebisa mungkin, aku mencari anime dengan dubbing bahasa aslinya, yakni bahasa Jepang. Hasilnya, aku dapat mengenal bahasa Jepang. Selin itu dapat pula membuat kalimat, meskipun sedikit-sedikit.

Tentang film ini, aku secara tidak sengaja menemukannya. Film ini buatan sekolah film di Polandia. Ceritanya menggunakan setting jaman Romawi.


Menarik, kan? Selanjutnya, kamu dapat sering menirukan yang mereka ucapkan.

Judul post kali ini merupakan kalimat tanya? Sebenarnya ada lebih lengkapnya yaitu salah satu ayat dalam Injil Yohanes (Yohanes 18: 23).

Si male locutus sum, testimonium perhibe de malo; si autem bene, quid me cædis?

Kalimat itu termasuk dalam pertanyaan sekaligus kalimat majemuk. Namun kita tidak akan membahas keduanya untuk saat ini. Pada prinsipnya, kita pasti akan menjawab jika ada orang yang bertanya kepada kita. Lalu, ada pertanyaan quid me cædis? (cædis-cæere artinya memukul/menampar) Pertanyaan itu selengkapnya berarti, “mengapa kau menamparku?”. Andaikan dijawab, seharusnya dijawab dengan alasan.

Dalam membentuk kalimat yang menyatakan alasan, umumnya digunakan kata karena/sebab. Tidak jarang pula, kata sebab digunakan sebagai penghubung seperti dalam kalimat majemuk tertentu. Dalam bahasa Latin, kata sebab/karena memiliki terjemahan yang berbeda-beda menurut kata sebab itu sebagai apa. Ada empat kata dalam bahasa Latin yang dapat diterjemahkan sebagai kata karena/sebab, yaitu:

  • nam
  • enim
  • quia
  • causa

Tiga kata pertama seperti nam, enim dan quia memiliki makna sebagai kata hubung. Sedangkan causa memiliki makna sebagai kata benda. Sehingga kata causa memiliki arti penyebab. Sebagai kata benda, kata causa termasuk dalam declinatio primo.

Selanjutnya, bagaimana penggunaan kata nam, enim dan quia? Beginilah penjelasannya.

  • nam: digunakan untuk membuka kalimat utama sebagai kalimat tunggal.
  • Contohnya: Rogo mei comiti, “Quid tui pater cædit te?” Respondit ille, “Nam piger sum”. (Aku bertanya kepada temanku, “Mengapa ayahmu memukulmu?” Jawabnya, “Karena aku malas”)

  • enim: memiliki kegunaan yang sama dengan kata nam, tetapi kata enim tidak pernah sebagai kata pertama.
  • Contohnya: Rogo mei comiti, “Quid tui pater cædit te?” Respondit ille, “Piger enim sum”.

  • quia: digunakan untuk membuka/mengawali anak kalimat.
  • Contohnya: Mei pater cædit me, quia piger sum.

Teristimewa untuk kata causa-æ, contoh kalimat yang cocok adalah discipuli pigri est causa magistri iræ (Murid yang malas adalah penyebab guru marah.) Begitulah, semoga dapat berguna ya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s