Gradus Comparationis

Dari judul itu, memiliki arti sebagai tingkat perbandingan. Dari antara kita mungkin akan langsung memahami tentang apa kira-kira post ini. Tentu, sebab dalam pikiran kita pasti akan terbayang kalimat: “Saya lebih ~ daripada orang lain”; “Ternyata, dia memang orang yang ter~ untuk orang seusianya.” Benar sekali, pada post ini akan membahas tentang tingkat perbandingan. Sebagaimana perbandingan, pasti yang dibandingakan adalah sifat dari suatu objek. Maka dari itu, kita akan berkutat tentang kata sifat dalam pembahasan post ini.

Sebelum melangkah lebih jauh, ada beberapa istilah yang patut untuk diketahui:

  • Gradus comparationis : tingkat perbandingan;
  • gradus positivus: tingkat biasa;
  • gradus comparativus: tingkat lebih;
  • gradus superlativus: tingkat paling.

Beberapa darimu mungkin telah familiar dengan istilah itu (misal dalam bahasa Indonesia, tentang perbandingan komparatif atau superlatif). Di sini kita akan belajar untuk versi bahasa latinnya.

Berikut adalah hal penting yang perlu diperhatikan:

Tingkat perbandingan dalam bahasa latin dibentuk dengan menggantikan akhiran genetivus singularis masculinum dengan

  • akhiran -ior (genus masculinum dan femininum) atau -ius (genus netrum) untuk gradus comparativus,
  • akhiran -issimus -a -um (dengan nominativus tidak berakhiran -er) untuk gradus superlativus.

Kita juga bisa menggunakan kata daripada, yaitu dengan menambahkan kata quam.

Tasrif-tasrif

Itulah yang terpenting. Mari ambil contoh dengan kata Altus yang berarti dalam, berikut ini adalah tasrif untuk gradus comparativus singularis.

Kasus Masculinum Femininum Netrum
Nominativus Altior Altior Altius
Genetivus Altióris
Dativus Altióri
Accusativus Altiórem Altiórem Altius
Vocativus Altior Altior Altius
Ablativus Altióre

Sedangkan gradus comparativus pluralis adalah sebagai berikut ini.

Kasus Masculinum Femininum Netrum
Nominativus Altióres Altióres Altióra
Genetivus Altiórum
Dativus Altióribus
Accusativus Altióres Altióres Altióra
Vocativus Altióres Altióres Altióra
Ablativus Altióribus

Berikut ini juga ada tasrif gradus superlativus dengan contoh kata yang sama. Sebenarnya, tasrifnya tidak jauh berbeda dengan tasrif pada declinatio primo ataupun secundo.

Kasus Masculinum Femininum Netrum
Nominativus Altissimus Altissima Altissimum
Genetivus Altissimi Altissimæ Altissimi
Dativus Altissimo Altissimæ Altissimo
Accusativus Altissimum Altissimam Altissimum
Vocativus Altissimus Altissima Altissimum
Ablativus Altissimo Altissima Altissimo

Memang untuk gradus superlativus tidak ada tasrif pluralis-nya. Seperti yang telah kita ketahui bahwa sesuatu yang paling, pasti hanya ada satu (tunggal). Misalnya, di masa lalu Indonesia memiliki lembaga tertinggi negara (MPR) dan lembaga itu hanya satu, kan? Sama halnya dengan peserta dengan lari marathon tercepat dalam olimpiade, pasti hanya satu. Maka sudah jelas bila gradus superlativus tidak memiliki tasrif pluralis.

Kita juga akan menemui kata sifat yang berakhiran -er. kata sifat yang berakhiran -er memiliki gradus superlativus yang tidak diakhiri dengan -issimus tetapi diakhiri dengan akhiran -errimus (untuk genus masculinum), -errima (untuk genus femininum), -errimum (untuk genus netrum). Contohnya adalah kata acer dan berikut ini adalah tasrifnya.

Kasus Masculinum Femininum Netrum
Nominativus Acerrimus Acerrima Acerrimum
Genetivus Acerrimi Acerrimæ Acerrimi
Dativus Acerrimo Altissimæ Altissimo
Accusativus Altissimum Altissimam Altissimum
Vocativus Altissimus Altissima Altissimum
Ablativus Altissimo Altissima Altissimo

Magis et Maxime

Apabila kita mengingat-ingat tingkat perbandingan dalam bahasa Inggris, maka kita akan mengingat juga bahwa tidak semua kata sifatnya ditambahkan akhiran -er untuk komparatif, maupun ditambah akhiran -est untuk superlatifnya. Dalam bahasa Latin juga tidak semua kata sifatnya dapat diakhiri dengan akhiran -ior dan -ius untuk gradus comparativus, maupun -issimus, -issima, -issimum, -errimus, -errima dan -errimum untuk gradus superlativus. Kata sifat yang memiliki akhiran -ilis, -eus, -ius dan -uus termasuk yang tidak bisa diakhiri dengan akhiran tersebut. Kata sifat yang demikian memiliki aturan berikut.

  • Kata sifat yang berakhiran -ilis ditambah kata maxime sebelum kata sifat untuk membentuk frase dengan gradus superlativus, sedangkan kata dengan gradus comparativus diakhiri dengan akhiran -ior atau -ius.
  • Kata sifat yang berakhiran -eus, -ius, dan -uus ditambah kata maxime sebelum kata sifat untuk membentuk frase dengan gradus superlativus, sedangkan gradus comparativus ditambah kata magis sebelum kata sifat.
  • Khusus untuk kata yang berakhiran -uus, perlu diperhatikan huruf di depan akhiran itu. Apabila terdapat huruf q sebelum akhiran -uus, maka bentuk gradus comparativus tidak ditambahkan kata magis dan gradus superlativus juga tidak ditambahkan kata maxime. Kata sifat yang memiliki sifat ini mengikuti aturan biasa.
  • Maxime dan magis tidak ditasrifkan.

Misalkan kata laudábilis, yang artinya terpuji. Kata laudabilis berubah menjadi laudabílior atau laudabílius sebagai gradus comparativus dan maxime laudábilis untuk gradus superlativus. Tasrifnya mengikuti tasrif kata laudábilis (declinatio tertio[1] [2] [3]) dengan ditambahkan kata maxime. Contoh lain adalah kata necessarius, yang artinya perlu. Kata necessarius berubah menjadi magis necessarius untuk frase gradus comparativus dan maxime necessarius untuk gradus superlativus.

Contoh untuk sifat poin ketiga adalah kata iníquus yang memiliki arti curang. Gradus comparativus dari kata iníquus adalah iníquior-ius dan gradus superlativus-nya adalah iniquissimus-a-um.

Kata Sifat dengan Gradus Comparationis yang Tidak Beraturan

Meski demikian, ada juga kata sifat dalam bahasa Latin yang memiliki gradus comparationis tidak beraturan. Artinya kata sifat itu tidak mengikuti aturan gradus comparationis manapun. Kata sifat itu antara lain:

  • bonus (baik),
  • magnus (besar),
  • malus (buruk/jahat)
  • multi (banyak),
  • parvus (kecil),
  • vetus (tua),
  • propínquus (berdekatan) dan
Gradus Positivus Gradus Comparativus Gradus Superlativus
Bonus Mélior Óptimus
Malus Péior Péssimus
Magnus Máior Máximus
Multi Plures Plúrimi
Parvus Minor Mínimus
Vetus Vetúsior vetérrimus
Propínquus Própior
Propínquior
Próximus

Ada juga beberapa kata lain yang perlu diperhatikan.

  • Kata plures apabila diubah menjadi bentuk genetivus pluralis menjadi plúrium.
  • Kata plúrimi memiliki sinonim, yaitu pleríque.
  • Kata plúrimi apabila diubah menjadi bentuk genetivus pluralis akan berubah menjadi plurimórum-árum-órum.

Penggunaan kata quam

Kata quam dapat diterjemahkan sebagai daripada. Kata quam memiliki sifat seperti kata “dan” dan “atau”, sehingga hal yang diperbandingkan harus memiliki kasus yang sama. Misalkan suatu kalimat dalam bahasa Indonesia: Kota Surabaya lebih luas daripada Kota Magelang. Dalam bahasa Latin diterjemahkan sebagai: Urbi Surabaya vastior quam Urbi Magelang atau Surabaya vastior quam Magelang.

Catatan tentang nama kota: memang agak sulit untuk mentasrifkan nama kota yang asal namanya bukan turunan bahasa Latin. Biasanya nama-nama kota tersebut dikelompokkan dalam declinatio tertio. Karena dalam contoh dokumen berbahasa Latin yang menyebutkan kota, digunakan kata Semarangensis untuk Kota Semarang sebagai genetivus.

Kata quam juga bisa tidak ditulis, apabila kata quam diikuti oleh kata benda nominativus atau accusativus. Penghilangan kata quam harus diikuti perubahan kasus kata benda yang mengikutinya, sehingga kasusnya menjadi bentuk ablativus.

Contohnya: Surabaya vastior quam Magelang; dapat diubah menjadi Surabaya Magelangensce vastior est. Kata Magelangensce yang kasusnya ablativus (declinatio tertio) disebut juga ablativus comparationis.

Superlativus: paling dari antara yang lain

Kita mungkin akan mengawalinya dengan kalimat-kalimat ini:

  • Semarang est celebris urbs. (Semarang adalah kota yang sibuk)
  • Surabaya Semarangensce celebior est. (Surabaya lebih sibuk daripada Semarang)
  • Jakarta est celeberrimæ urbs inter omnes urbes. (Jakarta adalah kota tersibuk diantara semua kota)

Untuk point terakhir, kalimat itu juga bisa dijadikan bentuk lain. Jakarta celeberrimæ omnia urbes est. Maka, untuk membuat kalimat dengan makna “dari antara semua” diperlukan kata inter. Syaratnya adalah kata inter harus diikuti dengan bentuk accusativus. Andaikan tidak menggunakan kata inter, kata dengan bentuk genetivus dapat digunakan. Sehingga kata dengan bentuk genetivus itu disebut dengan genetivus partitivus.
fortissimus omnium = fortissimus inter omnes

Ya.., demikianlah. Semoga bisa berguna ya. Ad maiorem Dei Gloriam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s